Senin, 04 Februari 2013

Kerajaan Mataam Kuno



KERAJAAN MATARAM KUNO
Kerajaan Mataram Kuno (abad ke-8) adalah kerajaan Hindu di Jawa (Jawa Tengah dan Jawa Timur). Berdasarkan catatan yang terdapat pada prasassti yang ditemukan, Kerajaan Mataram Kuno bermula sejak pemerintahan Raja Sanjaya yang bergelar Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya. Ia memerintah Kerajaan Mataram Kuno hingga 732M.
Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.
Atas : Komplek Candi Dieng di Wonosobo, Jawa Tengah, merupakan peninggalan candi Hindu pada masa Kerajaan Mataram Kuno.

Kerajaan Mataram Kuno diperkirakan berdiri sejak awal abad ke-8. Pada awal berdirinya, kerjaan ini berpusat di Jawa Tengah. Akan tetapi, pada abad ke-10 pusat Kerajaan Mataram Kuno pindah ke Jawa Timur. Kerajaan Mataram Kuno mempunyai dua latar belakang keagamaan yang berbedaa, yakni agama Hindu dan Buddha.
Peninggalan bangunan suci dari keduanya antara lain ialah Candi Geding Songo, kompleks Candi Dieng, dan kompleks Candi Prambanan yang berlatar belakang Hindu. Adapun yang berlatar belakang agama Buddha antara lain ialah Candi Kalasan, Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Sewu, dan Candi Plaosan.


Kerajaan Mataram di Jawa Tengah
Kerajaan Mataram Kuno yang berpusat di Jawa Tengah terdiri dari dua wangsa (keluarga), yaitu wangsa Sanjaya dan Sailendraa. Pendiri wangsa Sanjaya adalah Raja Sanjaya. Ia menggantikan raja sebelumnya, yakni Raja Sanna. Konon, Raja Sanjaya telah menyelamatkan Kerajaan Mataram Kuno dari kehancuran setelah Raja Sanna wafat.
Setelah Raha Sanjaya wafat, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno dipegang oleh Dapunta Sailendra, pendiri wangsa Sailendra. Para raja keturunan wangsa Sanjaya seperti Sri Maharaja Rakai Panangkaran, Sri Maharaja Rakai Panunggalan, Sri Maharaja Rakai Warak, dan Sri Maharaja Rakai Garung merupakan raja bawahan dari wangsa Sailendra. Oleh Karena adanya perlawanan yang dilakukan oleh keturunan Raja Sanjaya, Samaratungga (raja wangsa Sailendra) menyerahkan anak perempuannya, Pramodawarddhani, untuk dikawinkan dengan anak Rakai Patapan, yaitu Rakai Pikatan (wangsa Sanjaya).

Rakai Pikatan kemudian menduduki takhta Kerajaan Mataram Kuno. Melihat keadaan ini, adik Pramodawarddhani, yaitu Balaputeradewa, mengadakan perlawanan namun kalah dalam peperangan. Balaputeradewa kemudian melarikan diri ke P. SUmatra dan menjadi raja Sriwijaya.
Pada masa Sri Maharaja Rakai Watukura Dyah Balitung Dharmodaya Mahasambu berkuasa, terjadi perebutan kekuasaan di antara para pangeran Kerajaan Mataram Kuno. Ketika Sri Maharaja Rakai Sumba Dyah Wawa berkuasa, kerajaan ini berakhir dengan tiba-tiba. Diduga kehancuran kerajaan ini akibat bencana alam karena letusan G. Merapi, Magelang, Jawa Tengah.
Kerajaan Mataram di Jawa Timur
Setelah terjadinya bencana alam yang dianggap sebagai peristiwa pralaya, maka sesuai dengan landasan kosmologis harus dibangun kerajaan baru dengan wangsa yang baru pula. Pada abad ke-10, cucu Sri Maharaja Daksa, Mpu Sindok, membangun kembali kerajaan ini di Watugaluh (wilayah antara G. Semeru dan G. Wilis), Jawa Timur. Mpu Sindok naik takhta kerajaan pada 929 dan berkuasa hingga 948. Kerajaan yang didirikan Mpu SIndok ini tetap bernama Mataram. Dengan demikian Mpu Sindok dianggap sebagai cikal bakal wangsa baru, yaitu wangsa Isana. Perpindahan kerajaan ke Jawa Timur tidak disertai dengan penaklukan karena sejak masa Dyah Balitung, kekuasaan Kerajaan Mataram Kuno telah meluass hingga ke Jawa Timur. Setelah masa pemerintahan Mpu Sindok terdapat masa gelap sampai masa pemerintahan Dharmawangsa Airlangga (1020). Sampai pada masa ini Kerajaan Mataram Kuno masih menjadi saatu kerajaan yang utuh. Akan tetapi, untuk menghindari perang saudara, Airlangga membagi kerajaan menjadi dua, yaitu Kerajaan Pangjalu dan Janggala.

Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berlatar agama Buddha.Atas: Candi Plaosan di Klaten, Jawa Tengah, salah satu peninggalan Kerajaan Mataram Kuno yang berlatar agama Buddha.
Arca Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, di Candi Belahan. Arca ini kini disimpan di Museum Trowulan.Atas : Arca Raja Airlangga, raja terakhir Kerajaan Mataram Kuno Jawa Timur, di Candi Belahan. Arca ini kini disimpan di Museum Trowulan.
TAHUKAH KAMU
Bencana alam karena letusan G. Merapi yang mengakibatkan berakhirnya Kerajaan Mataram Kuno dianggap sebagai paralaya atau kehancuran dunia.
Candi Gedong Songo di Ungaran, Jawa Tengah, merupakan candi peninggalan Kerjaan Mataram Kuno.Atas : Candi Gedong Songo di Ungaran, Jawa Tengah, merupakan candi peninggalan Kerjaan Mataram Kuno.
A. Lokasi
Kerajaab Mataram terletak di Jawa Tengah dengan pusatnya disebut Bumi Mataram. Daerahnya dikelilingi oleh pegunungan dan gunung-gunung. Ditengahnya mengalir banyak sungai. Karena itu daerahnya sangat subur yang memudahkan pertambahan penduduk. Menurut prasasti Sujomerto di Jawa Tengah hanya ada satu dinasti yaitu dynasti Syailendra yang semula beragama Hinsu Syiwa kemudian beralih beragama Budha.
B. Sumber Sejarah
1. Sumber sejarah Mataram Hindu (8-10 M) Dynasti Sanjaya
a) Prasasti Canggal (732 M)
Pendiri sebuah Lingga di desa Kunjarakunja oleh Raden Sanjaya yang kaya padi dan emas mula-mula diperintah oleh Raja Sanna dan digantikan Sanjaya.
b) Prasasti Balitung (907 M)
Pemberian hadiah tanah kepada lima orang patih di Mantyasih yang telah berjasa terhadap kerajaan.
2. Sumber sejarah Mataram Budha (8-9 M) Dynasti Syailendra
a) Prasasti Kalasan (778)
Pembuatan bangunan suci bagi Dewi Tara (istri Budha) dan sebuah biara untuk para pendeta dalam kerajaan keluarga syailendra oleh Maharaja Tejahpurnama Panangkaran atas bujukan para guru sang raja Syailendra. Kemudian Panangkaran menghadiahkan Desa Kalasan kepada Sangga Budha.
b) Prasasti Kelurak (782 M)
Pembuatan arca Manjusri yang merupakan perwujudan sang Budha, Dharma dan Sangga yang setara dengan Brahma, Wisnu, dan Siwa Raja yang memerintah saat itu bernama Indra.
c) Prasasti Ratu Boko (856 M)
Menceritakan kekalahan Balaputradewa yang kemudian melarikan diri ke Sriwijaya (menjadi raja) dalam perang saudara melawan kakaknya yaitu Pramodawardhani yang sudah menikah dengan Rakai Pikatan.
d) Prasasti Nalanda (860 M)
Asal-usul raja Balaputradewa sebagai putra dari raja Samaratungga dan cucu dari raja Indra ( dinasti Syailendra di Jawa Tengah)
e) Prasasti Ligor (860)
Dibuat oleh raja Balaputradewa yang mengaku sebagai cucu raja Jawa dari wangsa Syailendra dengan gelar Sri Wiramairinmathana.
C. Kehidupan Politik
1. Kerajaan Mataram Hindu (Dynasti Sanjaya)
Raja yang memerintah Mataram Hindu dari prasasti Balitung:
 Rakai Mataram Sang Ratu SanjayaØ
 Sri Maharaja Rakai PanangkaranØ
 Sri Maharaja Rakai PanunggalanØ
 Sri Maharaja Rakai WarakØ
 Sri Maharaja Rakai GarungØ
 Sri Maharaja Rakai PikatanØ
 Sri Maharaja Rakai KayuwangiØ
 Sri Maharaja Rakai WatukumalangØ
 Sri Maharaja Watukura Diah BalitungØ
a) Kerajaan Mataram Hindu ( Dynasti Sanjaya)
 Masa Ratu Sanjaya§
• Memerintah dengan adil dan bijaksana sehingga rakyatnya terjamin keamanannya dan tentram.
• Dalam masalah agama beliau mendatangkan pendeta Hindu Gerahiran Siwa (pemujaan terhadap dewa tertinggi diberikan kepada Dewa Siwa).
• Mendirikan candi-candi untuk pemujaan para dewa.
• Meninggal pada pertengahan abad 8 dan digantikan oleh Rakai Panangkaran dan berturut-turut Rakai Panunggalan, Rakai Warak dan Rakai Garung.
 Masa Sri Maharaja Rakai Pikatan§
• Mempunyai cita-cita menguasai seluruh wilayah Jawa Tengah.
• Melaksanakan perkawinan politik untuk mewujudkan cita-citanya yaitu mengawini Pramodawardhani (seharusnya sebagai pewaris tahta kerajaan Syailendra namun diberikan kepada adik dari istri selir yaitu Balaputradewa).
• Mendesak Pramodawardhani agar mau menarik kembali tahta kerajaan dari adiknya (menyebabkan terjadinya perang saudara).
 Masa Sri Maharaja Watukura Diah Balitung§
• Seorang raja Mataram yang besar dan cakap.
• Berhasil mempersatukan kembali Mataram yang hampir terpecah belah akibat pertentangan antar kaum bangsawan.
• Kesejah teraan meningkat dan keamanan terjamin.
• Daerah kekuasaan meluas hingga Jawa Timur.
• Meninggalkan banyak prasasti dan yang terpenting adalah prasasti mantyasih yang berisi tentang silsilah raja Mataram dari Raja Sanjaya sampai dengan Raja Diah Balitung.
 Masa Mpu Sindok§
• Karena khawatir akan terjadinya serangan dari Sriwijaya, pusat pemerintahan dipindah ke Jawa Timur (kekuasaan Mataram di Jawa Tengah berakhir).
2. Kerajaan Mataram Budha (Dynasti Syailendra)
Raja-raja yang memerintah Dinasti Syailendra antara lain:
 Raja Bhanu (752-775 M)Ø
 Raja Wisnu (775-782 M)Ø
 Raja Indra (782-812 M)Ø
 Raja Samaratungga (812-833 M)Ø
 Raja Balaputradewa (833-856 M)Ø
 Ratu Pramodawardhani (856 M)Ø
 Masa Raja Indra§
• Menjalankan politik ekspansi dengan sasaran menguasai daerah-daerah disekitar selat Malaka.
• Menjalankan pernikahan politik yaitu menikahkan Samaratungga dengan putri Raja Sriwijaya.
 Masa Raja Samaratungga§
• Membangun candi Borobudur yang diselesaikan oleh putranya yaitu Balaputradewa.
 Masa Raja Balaputradewa§
• Terjadi perang saudara antara Balaputradewa dengan Pramodawardhani dan diakhiri dengan pelarian diri Balaputradewa ke Sriwijaya (menjadi raja)
D. Kehidupan Ekonomi
Kehidupan ekonominya bersumber pada usaha pertanian. Hal ini dapat dibuktikan adanya pemberian tanah kepada para Sanggha didaerah kalasan dari pembebasan pajak patapanpupalar di Muntilan. Pada masa pemerintahan Raja Balitung, perdagangan mulai berkembang dalam prasasti Purworejo (900 M), raja memerintah pusat-pusat perdagangan. Untuk keadaan perekonomian dinasti Syailendra tidak diketahiu dengan pasti mungkin juga tidak jauh berbeda dengan dinasti Sanjaya.
E. Kehidupan Sosial Budaya
Pada zaman Mataram, hubungan antara kalangan istana dan desa-desa cukup erat. Untuk menjaga keamanan terdapat berbagai peraturan yang harus ditaati oleh semua orang (pegawai maupun rakyat). Hal ini berarti menunjukkan bahwa masyarakat Mataram hidupnya sudah teratur. Kehidupan sosial masyarakat tersebut tidak jauh berbeda antara kerajaan dinasti Sanjaya maupun dinasti Syailendra.
Keturunan raja Sanjaya yang beragama hindu mendirikan candi-candi di Jawa Tengah utara seperti candi di dataran tinggi Dieng yang dibangun antara 778-850 M, candi prambanan/ Loro Jonggrang (yang dibangun oleh Rakai Pikatan dan diteruskan oleh penggantinya dan selesai pada masa pemerintahan Raja Daksa 915 M), candi Sambisari, candi Ratu Baka dan lain-lain. Sedang pada dinasti Syailendra yang beragama Budha mendirikan candi mendut, pawon, borobudur, kalasan, sari dan sewu.
KERAJAAN MATARAM HINDU-BUDHA
Kerajaan Mataram Kuno atau disebut dengan Bhumi Mataram. Pada awalnya terletak di Jawa Tengah. Daerah Mataram dikelilingi oleh banyak pegunungan seperti pegunungan serayu, gunung prau, gunung sindoro, gunung sumbing, gunung ungaran, gunung merbabu, gunung merapi, pegunungan kendang, gunung lawu, gunung sewu serta gunung kidul. Daerah ini juga  banyak mengalir sungai besar diantaranya sungai Progo, Bogowonto, Elo, dan Bengawan Solo. Kerajaan ini sering disebut dengan Kerajaan Mataram Kuna sebagai pembeda dengan Mataram Baru atau Kesultanan Mataram (Islam). Kerajaan Mataram merupakan daerah yang subur yang memudahkan terjadinya pertumbuhan penduduk yang  cukup pesat dan merupakan kekuatan utama bagi Negara darat..
Kerajaan Mataram berkuasa di Jawa Tengah bagian selatan antara abad ke-8 dan abad ke-10. Nama Mataram sendiri pertama kali disebut pada prasasti yang ditulis di masa raja Balitung.

A.   Mataram Hindu – Wangsa Sanjaya (732 M)
Sejarah dan Lokasi
Prabu Harisdarma seorang raja dari Kerajaan Sunda. Ia juga merupakan penerus  Kerajaan Galuh yang sah. Ayahnya bernama Bratasenawa yang merupakan raja ketiga Kerajaan Galuh. Saat pemerintahan Bratasenawa pada tahun 716 M, Kerajaan Galuh dikudeta oleh Purbasora. Purbasora dan Bratasena adalah saudara satu ibu, tetapi lain ayah.  Bratasenawa beserta keluarga melarikan diri ke Pakuan, pusat Kerajaan Sunda, dan meminta bantuan pada Tarusbawa. Tarusbawa sendiri adalah teman dekat Prabu Harisdarma sendiri adalah suami dari cucu Tarusbawa.
Sanjaya yang merupakan penerus Kerajaan Galuh menyerang Purbasora yang saat itu menguasai Kerajaan Galuh dengan bantuan dari Tarusbawa dan berhasil melengserkannya. Prabu Harisdarma pun menjadi raja Kerajaan Sunda Galuh. Prabu Harisdarma yang juga ahli waris dari Kalingga, kemudian menjadi penguasa Kalingga Utara yang disebut Bumi Mataram dan dikenal dengan nama Sanjaya pada tahun 732 M. Sanjaya atau Prabu Harisdarma, raja kedua Kerajaan Sunda (723-732 M), menjadi raja Kerajaan Mataram (Hindu) (732-760 M). ia adalah pendiri Kerajaan Mataram Kuno sekaligus pendiri Wangsa Sanjaya.

Sumber Sejarah
      Prasasti Canggal
Prasasti yang ditemukan di halaman Candi Gunung Wukir di desa Canggal berangka Tahun 732 M dalam bentuk Candrasangkala. Menggunakan huruf pallawa dan bahasa sangsekerta. Isi dari prasasti tersebut menceritakan tentang pendirian Lingga (lambang Syiwa) yang merupakan agama Hindu beraliran Siwa di desa Kunjarakunja oleh Raja Sanya serta menceritakan bahwa yang menjadi raja mula-mula adalah sena yang kemudian digantikan oleh Sanjaya.
Prasasti Metyasih/Balitung
Prasasti ini ditemukan di desa Kedu, berangka tahun 907 M.  Prasasti Metyasih yang diterbitkan oleh Rakai Watukumara Dyah Balitung (Wangsa Sanjaya ke-9) terbuat dari tembaga.. Prasasti ini dikeluarkan sehubungan dengan pemberian hadiah tanah kepada lima orang patihnya di Metyasih, karena telah berjasa besar terhadap Kerajaan serta memuat nama para raja-raja Mataram Kuno.

Kehidupan Ekonomi, Sosial, Politik dan Budaya
Dari prasasti Metyasih tersebut, didapatkan nama-nama raja dari Wangsa Sanjaya yang pernah berkuasa, yaitu :
 1.            Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya (732-760 M)
Masa Sanjaya berkuasa adalah masa-masa pendirian candi-candi siwa di Gunung Dieng. Kesusasteraan tidak menjadi monopoli kelas profesional. Pendidikan puisi merupakan pendidikan yang wajib diikuti oleh umum, terlebih bagi kalangan pegawai istana dan pemuka masyarakat.
Sanjaya memberikan wejangan-wejangan luhur untuk anak cucunya. Apabila sang Raja yang berkuasa memberi perintah, maka dirimu harus berhati-hati dalam tingkah laku, hati selalu setia dan taat mengabdi pada sang raja. Bila melihat gerak lirik raja, tenagkanlah dirimu menerima perintah dan tindakan dan harus menangkap isinya. Bila belum mampu mengadu kemahiran menagkap tindakan, lebih baik duduk terdiam dengan hati ditenangkan dan jangan gentar dihadapan sang raja.
Sanjaya selalu menganjurkan perbuatan luhur kepada seluruh punggawa dan prajurit kerajaan. Ada empat macam perbuatan luhur untuk mencapai kehidupan sempurna, yaitu :
·        Tresna (Cinta Kasih)
·        Gumbira (Bahagia)
·        Upeksa (tidak mencampuri urusan orang lain)
·        Mitra (Kawan, Sahabat, Saudara atau Teman) 
Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya mangkat kira-kira pertengahan abad ke-8 M. Ia digantikan oleh putranya Rakai Panangkaran.

2.            Sri Maharaja Rakai Panangkaran (760-780 M)
Rakai Panangkaran yang berarti raja mulia yang berhasil mengambangkan potensi wilayahnya. Rakai Pangkaran berhasil mewujudkan cita-cita ayahandanya, Sri Rakai Mataram Sang Ratu Sanjaya dengan mengambangkan potensi wilayahnya.
Nasehatnya yang terkenal tentang kebahagiaan hidup manusia  adalah :
·        Kasuran (Kesaktian)
·        Kagunan (Kepandaian)
·        Kabegjan (Kekayaan)
·        Kabrayan (Banyak Anak Cucu)
·        Kasinggihan (Keluhuran)
·        Kasyuwan (Panjang Umur)
·        Kawidagdan (Keselamatan)
Menurut Prasati Kalasan, pada masa pemerintahan Rakai Panangkaran dibangun sebuah candi yang bernama Candi Tara, yang didalamnya tersimpang patung Dewi Tara. Terletak di Desa Kalasan, dan sekarang dikenal dengan nama Candi Kalasan.

3.            Sri Maharaja Rakai Panaggalan (780-800 M)
Rakai Pananggalan yang berarti raja mulia yang peduli terhadap siklus waktu. Beliau berjasa atas sistem kalender Jawa Kuno. Rakai Panggalan juga memberikan rambu-rambu dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, seperti berikut ini “Keselamatan dunia supaya diusahakan agar tinggi derajatnya. Agar tercapai tujuannya tapi jangan lupa akan tata hidup”
Visi dan Misi Rakai Panggalan yaitu selalu menjunjung tinggi arti penting ilmu pengetahuan. Perwujudan dari visi dan misi tersebut yaitu Catur Guru. Catur berarti empat Guru berarti berat. Jadi artinya empat guru yang mempunyai tugas berat. Catur Guru terdiri dari :
·        Guru Sudarma, orang tua yang melairkan manusia.
·        Guru Swadaya, Tuhan
·        Guru Surasa, Bapak dan Ibu Guru di sekolah 
·        Guru Wisesa, Pemerintah pembuat undang-undang untuk kepentingan bersama
Pemberian penghormatan dalam bidang pendidikan, maka kesadaran  hukum dan pemerintahan di Mataram masa Rakai Pananggalan dapat diwujudkan.

4.            Sri Maharaja Rakai Warak (800-820 M)
Rakai Warak, yang berarti raja mulia yang peduli pada cita-cita luhur. Pada masa pemerintahannya, kehidupan dalam dunia militer berkembang dengan pesat. Berbagai macam senjata diciptakan. Rakai Warak sangat mengutamakan ketertiban yang berlandaskan pada etika dan moral. Saat Rakai Warak berkuasa, ada tiga pesan yang diberikan, yaitu :
1.      Kewajiban raja adalah jangan sampai terlena dalam menata, meneliti, memeriksa dan melindungi.
2.      Pakaian raja adalah menjalankanlah dengan adil dalam memberi hukuman dan ganjaran kepada yang bersalah dan berjasa.
3.      Kekuatan raja adalah bisa mengasuh, merawat, mengayomi dan memberi anugrah.

5.            Sri Maharaja Rakai Garung  (820-840 M)
Garung memiliki arti raja mulia yang tahan banting terhadap segala macam rintangan. Demi memakmurkan rakyatnya, Sri Maharaja Rakai Garung bekerja siang hingga malam. Hal ini dilakukan tak lain hanya mengharap keselamatan dunia raya yang diagungkan dalam ajarannya.
Dalam menjalankan pemerintahannya Rakai Garung memiliki prinsip tri kaya parasada yang berarti tiga perilaku manusia yang suci. Tri Kaya Parasada yang dimaksud, yaitu :
·        Manacika yang berarti berfikir yang baik dan benar.
·        Wacika yang berarti berkata yang baik dan benar.
·        Kayika yang berarti berbuat yang baik dan benar.

6.            Sri Maharaja Rakai Pikatan (840 – 856 M)
Dinasti Sanjaya mengalami masa gemilang pada masa pemerintahan Rakai Pikatan. Dalam Prasasti Tulang Air di Candi Perut (850 M) menyebutkan bahwa Rakai Pikatan yang bergelar Ratu mencapai masa kemakmuran dan kemajuan. Pada masa pemerintahannya, pasukan Balaputera Dewa menyerang wilayah kekuasaannya. Namun Rakai Pikatan tetap mempertahankan kedaulatan negerinya dan bahkan pasukan Balaputera Dewa dapat dipukul mundur dan melarikan diri ke Palembang.
Pada zaman Rakai Pikatan inilah dibangunnya Candi Prambanan dan Candi Roro Jonggrang. Pembuatan Candi tersebut terdapat dalam prasasti Siwagraha yang berangka tahun 856 M. Rakai Pikatan terkenal dengan konsepnya Wasesa Tri Dharma yang berarti tiga sifat yang mempengaruhi kehidupan manusia.

7.            Sri Maharaja Rakai Kayuwangi (856 – 882 M)
Prasasti Siwagraha menyebutkan bahwa Sri Maharaja Rakai Kayuwangi memiliki gelar Sang Prabu Dyah Lokapala. Tugas utamanya yaitu memakmurkan, mencerdaskan, dan melindungi keselamatan warga negaranya.
Pada masa pemerintahannya, Rakai Kayuwangi menuturkan bahwa ada  enam alat untuk mencari ilmu, yaitu :
1.      Bersungguh-sungguh tidak gentar
Semua tutur kata dan budi bahasa dilakukan dengan baik, selaras dan menyatu.
2.      Bertenggang rasa
Memperhatikan sikap yang kurang baik dengan kebenaran.
3.      Ulah pikiran
Menimbang-nimbang dengan memperhatikan tujuan kemampuan dan kemauan yang diterapkan harus atas pemikiran yang tepat.
4.      Penerapan ajaran 
Dalam setiap melaksanakan kehendak harus dipertimbangkan, jangan sampai tergesa-gesa. Jangan melupakan ajaran terdahulu, ajaran masa kini perlu untuk diketahui
5.      Kemauan
Sanggup sehidup semati, mematikan keinginan dan membersihkan diri. Dalam kata lain, tekad dan niat harus dilakukan dantidak segan-segan dalam melakukan pekerjaan
6.      Menguasai berbagai bahasa
Memahami semua bahasa agar mampu mengatasi perhubungan serta mampu mengakrabi siapa saja.

8.            Sri Maharaja Rakai Watuhumalang (882 – 899 M)
Sri Maharaja Rakai Watuhumalang memiliki prinsip dalam menjalankan pemerintahannya. Prinsip yang dipegangnya adalah  Tri Parama Arta yang berarti tiga perbuatan untuk mengusahakan kesejahteraan dan kebahagiaan orang lain. Tri Parama Arta terdiri dari :
1.      Cinta Kasih, menyayangi dan mengasihi sesama makhluk sebagaimana mengasihi diri sendiri.
2.      Punian, perwujudan cinta kasih dengan saling tolong menolong dengan memberikan sesuatu yang dimiliki secara ikhlas.
3.      Bakti, perwujudan hati nurani berupa cinta kasih dan sujud Tuhan, orang tua, guru dan pemerintah.

9.            Sri Maharaja Watukumara Dyah Balitung (898 – 915 M)
Pada masa pemerintahannya beliau memiliki seorang teknokrat intelektual yang handal bernama Daksottama. Pemikirannya mempengaruhi gagasan Sang Prabu Dyah Balitung. Masa pemerintahannya duja menjadi masa keemasan bagi Wangsa Sanjaya. Sang Prabu aktif mengolah cipta karya untuk mengembangkan kemajuan masyarakatnya. Dalam mengolah cipta karya, tahun 907 Dyah Balitung membuat Prasasti Kedu atau Metyasih yang berisikan nama-nama raja Kerajaan Mataram Wangsa Sanjaya. Serta menjelaskan bahwa pertunjukan wayang (mengambil lakon Bima di masa muda) untuk keperluan upacara telah dikenal pada masa itu.

10.        Sri Maharaja Rakai Daksottama (915 – 919 M)
Daksottama yang berarti sorang pemimpin yang utama dan istimewa. Pada masa pemerintahan Dyah Balitung, Daksottama dipersiapkan untuk menggantikannya sebagai raja Mataram Hindu.

11.        Sri Maharaja Dyah Tulodhong (919 – 921 M)
Rakai Dyah Tulodhong mengabdikan dirinya kepada masyarakat menggantikan kepemimpinan Rakai Daksottama. Keterangan tersebut termuat dalam Prasasti Poh Galuh yang berangka tahun   809 M. Pada masa pemerintahannya, Dyah Tulodhong sangat memperhatikan kaum brahmana
12.        Sri Maharaja Dyah Wawa ( 921 – 928 M)
Rakai Sumba Dyah Wawa dinobatkan sebagai raja Mataram pada tahun 921 M. Beliau terkenal sebagai raja yang ahli dalam berdiplomasi, sehingga sangat terkenal dalam kancah politik internasional.
Roda perekonomian pada masa pemerintahannya berjalan dengan pesat. Dalam menjalankan pemerintahannya Dyah Wawa memiliki visiTri Rena Tata yang berarti tiga hutang yang dimiliki manusia. Pertama hutang kepada Tuhan yang menciptakannya, Kedua hutang jasa kepada leluhur yang telah melahirkannya. Dan ketiga, hutang ilmu kepada guru yang telah mengajarkannya.
13.        Sri Maharaja Rakai Empu Sendok (929 – 930 M)
Empu Sendok, terkenal dengan kecerdasan, ketangkasan , kejujuran dan kecakapannya. Manajemen dan Akuntansi dikuasai, psikologi diperhatikan.

Keruntuhan Wangsa Sanjaya
Pada abad ke-10, Dyah Wawa mempersiapkan stategi suksesi Empu Sendok yang memiliki integritas dan moralitas sebagai calon pemimpin Mataram. Pada saat itulah pemerintahan Dyah Wawa mengalami kemunduran. Empu Sendok yang memegang pemerintahan setelah Dyah Wawa meninggal merasa khawatir terhadap serangan yang dilancarkan oleh Kerajaan Sriwijaya. Empu Sendok memindahkan pusat pemerintahannya dari Jawa Tengah ke Jawa Timur Sumber lain menyebutkan perpindahan dari Jawa Tengah ke Jawa Timur disebabkan oleh meletusnya gunung merapi di Jawa Tengah.

Kerajaan Mataram kuno/lama berkembang di daerah Jawa Tengah, sumber yang menerangkan keberadaan Kerajaan Mataram kono antara lain prasasti. Prasasti-prasasti itu adalah Prasasti Canggal, Balitung, Kalasan, Kelurak, dan Karangtengah.
- Prasasti Canggal
Prasasti ini ditemukan di Desa Canggal, di Gunung Wukir sebelah barat daya Magelang. Prasasti Canggal berangka taahun 732 M dengan menggunakan huruf Pallawa dan bahasa Sansekerta. Isinya menerangkan, bahwa “Raja Sanjaya mendirikan sebuah lingga di Bukit Kunjarakunja”. Selain itu, juga disebutkan bahwa Jawa kaya akan padi emas. Asal usul Raja Sanjaya dapat diterangkan sebagai berikut.
Mula-mula Kerajaan Mataram Lama diperintah oleh Raja Sanna. Ia memerintah dengan bijaksana dalam waktu yang cukup lama. Tetapi, setelah Sanna meninggal, kerajaannya menjadi terpecah karena kehilangan pelindungnya. Pengganti Sanna adalah Sanjaya. Sanjaya adalah anak saudara perempuan Sanna yang bernama Sanaha. Raja Sanjaya menguasai daerah-daerah di sekitarnya dan menciptakan kemakmuran bagi rakyatnya.
Prasasti ini menginformasikan bahwa Kerajaan Mataram Lama berdiri sekitar abad ke-8 M. Pendirian lingga dianggap sebagai suatu peringatan yang menandai berdirinya Kerajaan Mataram Lama. Oleh karena itu, Sanjaya dianggap sebagai pendiri Kerajaan Mataram Lama. Selain itu, Sanjaya memeluk agama Hindu Syiwa, karena lingga merupakan lambang Dewa Syiwa.
- Prasasti Balitung
Prasasti Balitung disebut juga Mantyasih atau Kedu. Prasasti yang dibuat oleh Raja Balitung ini, ditemukan di Desa Mantyasih daerah Kedu. Prasasti ini berangka tahun 907 M. Bentuknya berupa lempengan tembaga dan berisi silsilah Dinasti Sanjaya. Prasasti tersebut berbunyi, “Rahyangta rumuhun ri medang ri poh pitu”. Artinya, dewa-dewa atau nenek moyang yang telah meninggal di Medang di Pohpitu.
Dalam prasasti ini terdapat nama-nama seperti:
- Sri Maharaja Rakai Mataram sang Ratu Sanjaya
- Sri Maharaja Rakai Panangkaaran
- Sri Maharaja Rakai Panunggalan
- Sri Maharaja Rakai Warak
- Sri Maharaja Rakai Garung
- Sri Maharaja Rakai Pikatan
- Sri Maharaja Rakai Kayuwangi
- Sri Maharaja Rakai Watuhumalang
- Sri Maharaja Rakai Watuhura Dyah Balitung
- Prasasti Kalasan
Prasasti Kalasan berangka tahun 776 M. Adapun isinya adalah “Para guru sang raja mustika keluarga Syailendra telah berhasil membujuk Maharaja Tejahpurnapana Panangkaran untuk membangun sebuah bangunan suci bagi Dewi Tara dan sebuah biara para pendeta. Raja panangkarana menghadiahkan sebuah tanah di Kalasan kepada para Sangha”.
Informasi yang diperoleh dari prasasti ini menunjukkan bahwa sekitar abad 8 M dan 9 M di Mataram Lama telah terjalin kerukunan umat beragama. Raja Panangkaran yang beragam Hindu mendirikan bangunan suci untuk umat Budha. Walaupun pada saat itu Dinasti Sanjaya mulai terdesak oleh Wangsa Syailendra, kedudukan raja-raja Sanjaya tetap di akui.
- Prasasti Kelurak
Prasasti Kelurak berangka tahun 782 M. Pada prasasti ini terdapat tulisan yang menerangkan bahwa seorang raja yang bernama Indra membuat bangunan suci dan Arca Manjusri. Tulisan itu menggunakan huruf Pranagari dan berbahasa Sansekerta. Mungkin yang dimaksud dengan bangunan suci dalam tulisan itu adalah Candi Sewu. Candi Sewu ini terletak di sebelah Candi Prambanan.
- Prasasti Karangtengah
Prasasti Karangtengah berangka tahun 824 M. Pada Prasasti ini terdapat tulisan yang menerangkan bahwa Raja Samarattungga mendirikan bangunan suci di Wenuwana. Para ahli menyebutnya sebagai Candi Ngawen. Candi ini terletak di sebelah barat Muntilan. Disebutkan juga bahwa putrinya yang bernama Pramodhawardani membebaskan pajak tanah di sekitar sekitar baangunan suci untuk pemeliharaan Kamulan di Bumisambhara. Dalam hal ini yang dimaksudkan Kamulan Bumisambhara adalah Candi Borobudur. Jadi, Candi Borobudur dibangun atas perintah Samaratungga, sedangkan arsiteknya adalah Ganadharma.
Raja-raja mataram lama
Silsilah raja Sanjaya
Telah dijelaskan di atas, bahwa pada akhir abad ke-8 M Dinasti Sanjaya mulai terdesak oleh Dinasti Syailendra. Karena itu, masing-masing dinasti mempunyai wilayah tersendiri. Daerah kekuasaan Sanjaya adalah Jawa Tengah bagian utara, sedangkan kekuasaan Syailendra di wilayah Jawa Tengah bagian selatan. Kesimpulan ini berdasarkan peninggalan-peninggalan mereka. Candi-candi Hindu sebagian besar terdapat di Jawa Tengah bagian utara, sedangkan candi-candi Budha terdapat di Jawa Tengah bagian selatan. Kata Syailendra berarti “Raja Gunung”, karena Saila berarti “gunung” dan Indra adalah “raja”.
Berdasarkan prasasti yang ditemukan tersebut akhirnya dapat dibuat susunan raja-raja Dinasti Syailendra, seperti berikut.
Raja Banu memerintah pada tahun 752M – 775M.
Raja Wisnu memerintah pada tahun 775M – 782M.
Raja Indra memerintah pada tahun 782M – 812M.
Raja Samarattungga memerintah pada tahun 812M -833M.
Raja Pramodhawardhani memerintah pada tahun 833M – 856M.
Kedudukan Syailendra sebelum mendesak kedudukan Sanjaya tidak diketahui dengan pasti. Pendesakan ini terjadi pada masa pemerintahan Raja Wisnu. Puncak kejayaan Dinasti Syailendra terjadi pada masa pemerintahan Raja Indra. Mataram Lama menjadi kerajaan agromaritim. Artinya, mereka tidak hanya mengutamakan bidaang pertanian, tetapi juga bergerak di bidang pelayaran dan perdagangan. Pengganti Indra adalah Samarattungga yang berhasil membangun Candi Borobudur.
Kemunduran Dinasti Syailendra tampaknya terjadi pada masa pemerintahan Samarattungga. Demi menyelamatkan kedudukannya, Samarattungga mengadakan perkawinan politik antara Pramodhawardani dengan Rakai Pikatan dari Dinasti Sanjaya. Perkawinan ini ditentang oleh Balaputradewa. Sepeninggal Samarattungga, di Mataram terjadi perang saudara antara Rakai Pikatan dengan Balaputradewa. Balaputradewa adalah puta lain dari Samarattungga. Perang ini terjadi karena Balaputadewa merasa lebih berhak atas tahta kerajaan dari pada Rakai Pikatan. Perang ini terjadi pada tahun 856 M. Balaputradewa mengalami kekalahan. Akhirnya Balaputradewa melarikan diri ke Sumatera dan menjadi Raja Sriwijaya. Jadi, sejak saat itu berakhirlah kekuasaan Dinasti Syailendra di Mataram. Lalu, Dinasti Sanjaya berkuasa kembali.
Pada masa pemerintahan Rakai Pikatan, wilayah Mataram meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur. Beliau mendirikan bangunan suci untuk agama Hindu dan Budha, antara lain Candi Plaosan dan Candi Prambanan.
Rakai Pikatan digantikan oleh Rakai Kayuwangi (856-866). Beliau beragama Hindu Syiwa. Beliau digantikan oleh Rakai Watuhumalang, tetapi kurang dikenal karena tidak banyak prasasti yang ditinggalkannya. Beliau digantikan oleh Raga Balitung (896 M sampai 930 M) dengan gelar Watukumara.
Pada masa pemerintahan Balitung banyak ditemukan prasasti, baik di Jawa Tengah maupun di Jawa Timur. Berdasarkan penelitian terhadap prasasti tersebut, ternyata wilayah kekuasaan Balitung meliputi Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Raja Balitung membangun juga kompleks Candi Prambanan yang sudah dirintis oleh Rakai Pikatan. Pembangunannya baru selesai pada masa pemerintahan Daksa (pengganti Balitung). Pada masa Balitung dikenal jabatan-jabatan, seperti Rakryan i Hino, Rakryan i Halu, dan Rakryan i Sirikan. Mereka adalah tritunggal yang penting dalam kerajaan.
Pada tahun 910M, Raja Balitung digantikan oleh Daksa, yang memegang pemerintahan hingga tahun 919M. Daksa digantikan oleh Raja Tulodong. Pemerintahan Raja Daksa dan Tulodong tidak begitu jelas, karena sedikit prasasti yang ditinggalkan. Raja Tulodong adalah raja terakhir yang meninggalkan prasasti-prasasti di Jawa Tengah dan Jawa Timur.
Pengganti Tulodong adalah Raja Wawa dengan gelar Srijayalokanamottungga. Raja Wawa memerintah pada taahun 924M sampai 929M. Pengganti Raja Wawa adalah menantunya, yaitu Mpu Sindok. Beliau memindahkan pusat kerajaan ke Jawa Timur. Mpu Sindok bukan berasal dari Dinasti Syailendra, melainkan dari Dinasti Isyana.
Peninggalan kerajaan mataram lama

Peninggalan kerajaan mataram lama berupa candi-candi pada masa Dinasti Sanjaya dan Syailendra.
Peninggalan Dinasti Sanjaya meliputi:
- Candi Prambanan
- Candi Dedong songo
- Kompleks Candi Dieng
- Candi Pringapus
- Candi Selogrio
Peninggalan Dinasti Syailendra meliputi:
- Candi Borobudur
- Candi Pawon
- Candi Kalasan
- Candi Sari
- Candi Sewu
- Candi Ngawen

LETUSAN MERAPI 1006 MENYEBABKAN KERAJAAN MATARAM HINDU PINDAH

Gunung Merapi (2.968 m dpl.) sebagai salah satu gunung api aktif Indonesia telah banyak menarik perhatian masyarakat, baik karena aktivitasnya maupun keunikannya bila ditinjau dari sisi ilmiah maupun budaya. Banyak penelitian yang telah dilakukan berkaitan dengan pemantauan untuk keperluan mitigasi maupun untuk peningkatan pemahaman terhadap karakteristik Gunung Merapi itu sendiri.

Prambanan Salah Satu Sisa Peradaban Mataram
Seperti diketahui, selama ini letusan Merapi dikenal selalu mengarah ke barat atau baratdaya. Hal ini dapat dipahami karena kawah aktif Gunung Merapi saat ini terbuka ke arah barat-baratdaya. Sehingga selama pertumbuhan kubah lava masih di dalam dan belum melampaui dinding kawah, maka letusan akan mengarah ke barat – baratdaya. Namun bila dinding kawah telah terlampaui dan pertumbuhan kubah melimpah keluar kawah, maka kondisi ini dapat mengganggu kestabilan kubah.

Perpindahan Mataram
Hal tersebut akan mendorong longsornya kubah dan menyebabkan letusan yang terjadi mengarah ke sektor tersebut. Letusan tahun 1954-1956 yang mengarah ke utara merupakan contoh kasus tersebut. Dalam sejarah letusannya, Gunung Merapi dicirikan dengan perubahan yang sangat berarti pada tipe letusannya. Pada masa sekarang, letusan Gunung Merapi berkaitan dengan pertumbuhan dan gugurnya kubah lava, dan menghasilkan awan panas yang oleh kalangan ahli gunung api disebut sebagai Tipe Merapi karena sifatnya yang khas. Tipe letusan ini juga disebut “Wedhus Gembel” oleh masyarakat di sekitar Merapi. Dalam sejarah letusannya tercatat letusan yang paling tua diketahui adalah tahun 1006 (Data Dasar Gunung Api, 1979). Namun catatan terperinci mengenai letusan ini tidak diketahui.
Asumsi terdahulu menyebutkan bahwa longsornya Merapi dan letusannya yang besar pada tahun 1006 telah menyebabkan perpindahan Kerajaan Hindu Mataram dari Jawa Tengah ke Jawa Timur (Ijzerman, 1891; Scheltema, 1912; Labberton, 1922; van Bemmelen, 1949, 1956, 1971). Tetapi pernyataan ini disanggah oleh Boechari (1976), karena Mpu Sindok telah memerintah di Delta Brantas pada waktu itu.

Asal Mula Angka Letusan Tahun 1006
Ada beberapa hal yang menyebabkan munculnya angka letusan tahun 1006, dan yang menjadikan asumsi Bemmelen dianggap sebagai suatu kebenaran. Asal mulanya adalah dari ditemukannya Prasasti Kalkuta di India yang berangka tahun 963 Saka (1041) yang disebut juga sebagai Prasasti Pucangan. Di dalam prasasti tersebut dinyatakan bahwa telah terjadi bencana besar (pralaya) pada tahun 928 Saka (1006) akibat serangan Raja Wurawari dari Lwaram terhadap Kerajaan Mataram Hindu. Hal ini juga dikuatkan oleh Kern (1913) yang mengemukakan bahwa runtuhnya Kerajaan Mataram Hindu disebabkan oleh perang. Sementara itu, Labberton (1922) mengaitkan kemungkinan penyebab runtuhnya kerajaan tersebut dengan kejadian vulkanik.
Labberton (1922) dan Bemmelen (1949) juga berasumsi bahwa letusan pada tahun 1006 telah mengakibatkan perpindahan Kerajaan Mataram Hindu ke Jawa Timur. Lebih lanjut Bemmelen (1949) menghubungkan letusan tersebut dengan runtuhnya bagian puncak Merapi ke arah barat. Dijelaskan bahwa letusan besar tahun 1006 terjadi akibat pergerakan tektonik sepanjang sesar transversal yang menjadi dasar deretan Gunung Api Ungaran – Merapi. Diperkirakan gempa menyertai pergerakan tersebut dan merusak sebagian Candi Borobudur dan Mendut yang dibangun pada abad ke-9. Aktivitas tektonik ini diikuti dengan terjadinya longsoran Merapi dan letusan besar yang produk letusannya diperkirakan menutup candi-candi tersebut, merusak Kerajaan Mataram Hindu Kuno di Jawa Tengah, dan membendung aliran Kali Progo. Longsoran tersebut membentuk Perbukitan Gendol yang terletak di bagian barat Merapi.

Aktivitas Gunung Merapi dan Sejarah Letusannya
Gunung Merapi merupakan salah satu gunung api aktif di Indonesia seperti ditunjukkan oleh intensitas letusannya yang tinggi. Letusan Gunung Merapi terjadi sekali dalam kurun waktu 1-7 tahun. Dengan masa tidak aktif paling lama 12 tahun (Bemmelen, 1949) terjadi pada tahun 1849-1861.
Hasil studi tersebut menunjukkan bahwa beberapa letusan besar telah terjadi di masa lalu 1006. Kejadian letusan paling dekat dengan waktu tersebut adalah letusan yang terjadi sekitar 1112 ± 73 tahun yang lalu berdasarkan penentuan umur menggunakan Karbon. Letusan ini bertipe plinian dan menghasilkan Selo tefra dalam indeks letusan 3-4, dengan kolom letusan setinggi 10 km vertikal (Andreastuti, 1999, p 32). Pada tipe lokasinya di daerah Plalangan, lereng utara Gunung Merapi, endapan ini menunjukkan perulangan lapisan jatuhan piroklastika.

Bukti Sejarah
Fakta sejarah menunjukkan bahwa terdapat kesalahan interpretasi pada Prasasti Pucangan yang dibuat oleh Raja Airlangga (1019-1042) pada tahun 1041. Semula Kern (1913) menyebutkan bahwa pralaya terjadi pada tahun 928 Saka (1006). Namun hal ini dibantah oleh Boechari (1976) yang mengemukakan bahwa pralaya terjadi pada tahun 1016. Sementara itu Sedyawati (2006) menyebutkan bahwa pralaya terjadi pada tahun 939 Saka (tahun 1017). Dalam prasasti di atas juga dinyatakan bahwa pralaya yang terjadi disebabkan oleh serangan Raja Wurawari dari Lwaram. Pralaya itu sendiri terjadi pada jaman pemerintahan Raja Darmawangsa Tguh (991-1016).
Catatan sejarah menunjukkan bahwa prasasti terakhir di Jawa Tengah yang ditemukan adalah Wulakan yang berangka 925 Masehi, sedangkan prasasti pertama yang ditemukan di Jawa Timur adalah Anjukladang (Prasasti Candi Lor) yang ditemukan pada situs Candi Lor, di Desa Candirejo, empat kilometer di sebelah selatan Kota Nganjuk. Prasasti Anjukladang berangka tahun 859 Saka (937), dan dibuat oleh Mpu Sindok yang memerintah dari tahun 928 atau 929 sampai 948.
Prasasti ini merupakan prasasti kemenangan perang Kerajaan Mataram dari serangan tentara Sriwijaya. Mpu Sindok adalah raja terakhir Dinasti Sanjaya yang memerintah Kerajaan Mataram dan mendirikan kerajaan di Jawa Timur bernama Medang dengan ibukota kerajaannya adalah Watugaluh, di tepi Sungai Brantas (dekat Kabupaten Jombang sekarang).
Prasasti Canggal lain yang ditemukan berkaitan dengan teori Bemmelen (1949) bahwa Perbukitan Gendol diasumsikan sebagai longsoran dari Gunung Merapi. Prasasti ini terdapat di Candi Wukir, Desa Kadiluwih, Kecamatan Salam, Magelang, Jawa Tengah. Prasasti Canggal berangka tahun 732 Masehi, yang berarti Perbukitan Gendol telah ada lebih dari dua setengah abad sebelum tahun 1006.
Bukti lain yang mendukung adalah ditemukannya keramik dalam endapan vulkanik di sisi baratdaya Borobudur. Keramik ini berasal dari Dinasti Tang (618-906 M) dan temuan koin serta pecahan keramik dari Dinasti Song abad ke-10-13 (Miksic,1991).

Bukti Geologi
Berdasarkan data geologi yang ada, baik dari penelitian sebelumnya atau penelitian yang dilakukan di sini, maka hasil penelitian dapat disarikan sebagai berikut:
Perbukitan Gendol, yang terletak sekitar 20 km sebelah barat Merapi dan diperkirakan oleh Bemmelen (1949) sebagai hasil longsoran Gunung Merapi, memunyai umur jauh lebih tua dari Merapi (sekitar 3,5 juta tahun; Newhall dkk., 2000), sedangkan batuan tertua dari Merapi berumur 400.000.
Bemmelen (1949) juga menyebutkan bahwa Bukit Gendol terdiri atas perselingan breksi lahar dan endapan fluviatil tufan. Fragmen vulkaniknya terdiri atas vitrofi rik augit-hipersten-horenblenda yang serupa dengan Merapi tua, tetapi berbeda dengan Menoreh karena tidak ada hipersten. Sebaliknya Newhall (2000) menyanggah bahwa terdapat kesamaan antara batuan dari Gendol dan Menoreh yang terletak 7 km di sebelah baratnya dengan mineral asosiasi horenblenda-piroksen andesit. Selain itu batuan dari perbukitan Gendol memunyai tingkat pelapukan yang sangat tinggi dibanding dengan Merapi.
Sementara itu, Andreastuti (1999) dalam studinya mengemukakan bahwa asosiasi mineral batuan Merapi tua tersusun atas horenblenda-piroksen andesit dengan atau tanpa ortopiroksen. Ditinjau dari karakteristik endapannya, perbukitan Gendol tidak menunjukkan ciri endapan debris avalanche, yaitu hasil longsoran sektoral gunung api dalam skala besar, akibat ketidakstabilan gravitasi.
Endapan ini berbentuk sebaran seperti kipas dan endapan dicirikan oleh morfologi perbukitan di sepanjang jalur longsoran dengan ketinggian yang semakin berkurang menjauhi sumbernya. Di daerah sekitar Gunung Merapi endapan debris avalance ditemukan di lereng bagian selatan, yaitu di Kali Boyong. Namun belum ditemukan di tempat lain. Hasil analisis Karbon menunjukkan bahwa endapan ini berumur 1130 ± 50 tahun (akhir abad ke-9 atau awal abad ke-10) (Newhall, 2000). Salah satu ciri endapan debris avalanche adalah masih ditemukannya struktur asli batuan sebelum longsor (contoh perlapisan), juga ditemukan struktur jigsaw krack yang merupakan karakteristik khas endapan tersebut.

0 komentar :

Posting Komentar

 
;